Senin, 22 April 2013

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) EDISI REVISI TAKSONOMI BLOOM



Taksonomi Bloom pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) EDISI REVISI  TAKSONOMI BLOOM



RANAH KOGNITIF
Mengingat
(C1)
Memahami
(C2)
Menerapkan
(C3)
Menganalisis
(C4)
Mengevaluasi
(C5)
Menciptakan
(C6)
1
2
3
4
5
6
Mengenali
Mengingat kembali
Membaca
Menyebutkan
Melafalkan
Menuliskan
Menghafal

Menjelaskan
Mengartikan
Menginterpretasikan
Menceritakan
Menampilkan
Memberi contoh
Merangkum
Menyimpulkan
Membandingkan
Mengklasifikasikan
Menunjukkan
Menguraikan
Membedakan
Mengidentifikasikan
Melaksanakan
Mengimplementasikan
Menggunakan
Mengkonsepkan
Menentukan
Memproseskan


Mendiferensiasikan
Mengorganisasikan
Mengatribusikan
Mendiagnosis
Memerinci
Menelaah
Mendeteksi
Mengaitkan
Memecahkan
Menguraikan
Mengcek
Mengkritik
Membuktikan
Mempertahankan
Memvalidasi
Mendukung
Memproyeksikan

Membangun
Merencanakan
Memproduksi
Mengkombinasikan
Merangcang
Merekonstruksi
Membuat
Menciptakan
Mengabstraksi


RANAH AFEKTIF
Menerima
(A1)
Merespon
(A2)
Menghargai
(A3)
Mengorganisasikan
(A4)
Karakterisasi Menurut Nilai (A5)
Mengikuti
Menganut
Mematuhi
Meminati

Mengompromikan
Menyenangi
Menyambut
Mendukung
Menyetujui
Menampilkan
Melaporkan
Memilih
Mengatakan
Memilah
Menolak
Mengasumsikan
Meyakini
Meyakinkan
Memperjelas
Memprakarsai
Mengimani
Menekankan
Menyumbang
Mengubah
Menata
Mengklasifikasikan
Mengombinasikan
Mempertahankan
Membangun
Membentuk pendapat
Memadukan
Mengelola
Menegosiasi
Merembuk
Membiasakan
Mengubah perilaku
Berakhlak mulia
Mempengaruhi
Mengkualifikasi
Melayani
Membuktikan
Memecahkan


RANAH PSIKOMOTOR
Meniru
(P1)
Manipulasi
(P2)
Presisi
(P3)
Artikulasi
(P4)
Naturalisasi
(P5)
Menyalin
Mengikuti
Mereplikasi
Mengulangi
Mematuhi
Kembali membuat
Membangun
Melakukan, Melaksanakan, Menerapkan

Menunjukkan
Melengkapi Menunjukkan, Menyempurnakan Mengkalibrasi Mengendalikan
Membangun
Mengatasi Menggabungkan Koordinat, Mengintegrasikan Beradaptasi Mengembangkan Merumuskan, Memodifikasi
Master
Mendesain
Menentukan
Mengelola
Menciptakan


Sumber: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom

Selasa, 16 April 2013

BATIK KOTA WALI KHAS KADILANGU




Batik yang menjadi ikon Indonesia ternyata tidak hanya di Pekalongan dan Solo saja. Seiring berjalannya waktu di setiap daerah sekarang ini banyak yang membuat batik dengan khas daerah masing-masing. Contohnya saja di Kabupaten Demak, ada beberapa jenis batik, yaitu batik Demak dan batik Demak khas Kadilangu. Batik Demak berbeda dengan batik Demak khas Kadilangu, baik dari motif dan juga sejarah adanya batik tersebut.
Berbicara tentang batik, Apakah Anda mengetahui apa itu batik? Kata batik diambil dari kata “ambatik”, yaitu kata “amba” (bahasa jawa) yang berarti menulis dan “tik” yang berarti titik kecil, tetesan, atau membuat titik. Jadi, batik adalah menulis atau melukis titik. Secara umum, membatik adalah sebuah teknik menahan warna dengan lilin malam secara berulang-ulang di atas kain. Lilin malam digunakan sebagai penahan untuk mencegah agar warna tidak menyerap ke dalam serat kain di bagian-bagian yang dikehendaki.
Batik merupakan lukisan di atas kain yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pakaian. Pada awalnya, batik hanya dikenal oleh kalangan keraton. Batik terdiri dari berbagai motif dan setiap motif merupakan simbol bagi pemakainya, seperti motif-motif parang dan kawung yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan. Pada perkembangannya, batik menyebar ke kalangan masyarakat umum.
Sumber : http://batikcrb.blogspot.com
Sejarah Batik Kadilangu
Dengan dicanangkannya Visit Jateng 2012, pemerintah Kabupaten Demak merencanakan akan dibuat batik Demak khas Kadilangu sebagai ikonnya. Selain sebagai ikon Visit Jateng, juga sebagai oleh-oleh bagi wisatawan atau peziarah yang berkunjung ke Desa wisata Kadilangu. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah menunjuk kelurahan Kadilangu untuk diadakan pelatihan batik khas Demak pada awal 2011.
Dengan adanya pelatihan tersebut, salah satu peserta yang berhasil mengembangkan batik khas kadilangu adalah Ulfa (21) Mahasiswi UNTAG semester 6 jurusan Hukum, juga menggeluti sebagai penyiar radio di Suara Kota Wali, Demak.  Mulai berkarya batik dengan ayahnya yang awalnya hanya iseng mengikuti pelatihan untuk mengisi waktu liburan kuliah. Kemudian ayahnya juga tertarik untuk ikut dan mengembangkan bisnis batik khas Demak. Pengembangan batik khas Demak, khususnya kadilangu untuk oleh-oleh para wisatawan dan peziarah makam Walisanga di Kadilangu. Karena selama ini belum ada oleh-oleh khas kadilangu Demak dan untuk mengingatkan orang-orang dengan Kadilangu tumbuhan pace dan kemuning dituangkan dalam corak batik Kedilangu karena di makam banyak tumbuh kemuning dan pace.
Motif batik tersebut terinspirasi dari makanan khas pada jaman sunan Kalijaga yaitu Caos Dhahar. Caos Dhahar adalah nasi tumpeng, namun isinya terdiri dari ingkung, lele, ayam bakar, dan daun pace yang dibuat trancak mirip seperti rawon. Ada juga motif daun pace, cening (bunga kemuning yang digabung dengan daun pace), dan Loro Gendhing. Motif buat sendiri berdasarkan HAKI ada 4 yaitu sisik, jambu air, blimbing, dan ornamen yang ada di Masjid Agung Demak sudah di HAKI oleh Disperindag.
Setelah selesai pelatihan mereka  mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan sendiri akhirnya mereka membeli bahan-bahan dan  produksi sendiri seperti sekarang. Mereka sudah mempu yai showroom, letakya tidak jauh dari makam sunan Kalijaga, tepatnya di depan kelurahan Kadilangu.
Selain batik Ulfa membuat oleh-oleh khas Kadilangu yang lain berupa manik-manik seperti gantungan kunci, kalung yang berbentuk pace sehingga masyarakat menengah ke bawah juga dapat membeli oleh-oleh khas Kadilangu. Harga kain batik disini mulai Rp.100.000,- sampai Rp. 1.500.000,- Bergantung warna dan proses pembuatan. Untuk ukuran mereka hanya membuat 2.10 m, ukuran itu dipilih karena mereka mengantisipasi pembeli yang mempunyai badan besar. Yang berbadan kecil atau kurus jangan takut kain batiknya tersisa, karena bisa dibuat gamis untuk yang perempuan.
Cara Pembuatan Batik
Saat kami observasi, para pekerja sedang libur oleh karena itu kami tidak dapat melihat langsung proses pembuatan batik tersebut. Tetapi narasumber yakni Ulfa  menerangkan proses pembuatannya. Langkah-langkahnya yaitu:
1.      Pemotongan bahan baku (kain) sesuai ukuran yang digunakan.
2.      Mengetel : Menghilangkan kanji dari kain dengan cara membasahi kain tersebut dengan larutan : minyak kacang, soda abu, tipol dan air secukupnya. Lalu kain diuleni setelah rata dijemur sampai kering lalu diuleni lagi dan dijemur kembali.
3.      Nglengreng : Menggambar langsung pada kain.
4.       Isen-isen : Memberi variasi pada ornamen (motif) yang telah di lengreng
5.      Nembok : Menutup (ngeblok) bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
6.      Ngobat : Mewarnai batik yang sudah ditembok dengan cara dicelupkan pada larutan zat warna.
7.      Nglorod : Menghilangkan lilin dengan cara direbus dalam air mendidih (finishing).
8.      Pencucian : Setelah lilin lepas dari kain, lalu dicuci sampai bersih  kemudian dijemur
Pembuatan bergantung cuaca dan pewarnaan apabila warna yang diinginkan banyak, maka proses pembuatan juga akan lama.
Pemasaran
            Pada awalnya pemasaran dilakukan secara lisan yaitu dari mulut ke mulut. Namun setelah adanya Visit Jateng 2012, ada wartawan koran Suara Merdeka datang untuk mengangkat ikon yang ada di Kabupaten Demak. Jadi batik Demak khas Kadilangu dapat dipublikasikan. Kecamatan Dempet juga membeli batik Demak khas Kadilangu untuk seragam oleh istri para Lurah, dipakai pada saat Karnaval yang dilaksakan pada tanggal 7 April 2013. Hal tersebut ditujukan untuk memperkenalkan batik Demak khas Kadilangu.
            Selain itu, pemasaran juga dilakukan dengan mengikuti bazar dan expo diberbagai daerah, misalnya di Pekalongan, Solo dan Jakarta. Sebenarnya batik ini sudah ada permintaan untuk ekspor, namun kendalanya ada pada pegawai yang sulit diajak untuk berkembang. Mereka hanya bekerja saat membutuhkan uang, tidak setiap hari memproduksi. Jika ada pesanan, pemroduksi pun tidak dapat menentukan kapan waktu pembuatan selesai.
Gambar Batik


foto: Wisnu DK
                

foto: Wisnu DK

foto: Wisnu DK

foto: Wisnu DK

foto: Wisnu DK

Shofi, Ulfa (narasumber), Rida, Wisnu